Melihat Nusantara Pra Islam
Oleh: Aldi Bahar Tanjung
Dalam berbagai penggalian ilmiah yang terkait dengan etnis Penghuni Nusantara, diketahui bahwa semenjak Kala Pleistosen Akhir para penghuni kuno kepulawan Nusantara sudah mengenal peradaban yang di situ berkaitan dengan Agama. Dari berbagai jenis hasil budaya batu purba seperti Menhir, Dolmen, Yupa, Sarcopagus dan Punden Berundak hal tersebut telah ketahui sejak era paleolithikum sampai era Megalithikum, penghuni Nusantara sudah mengenal agama dengan berbagai pemujaannya. Selain itu pada era kebudayaan perunggu, banyak alat-alat yang berbahan perunggu yang disitu digunakan sebagai sarana pemujaan dan penguburan mayat.
P. Mus dalam L’Inde vue de l’Est. Cultes indiens etindigenes au champa menyatakan bahwa pada zaman purbakala terdapat kesatuan kebudayaan pada suatu wilayah yang sangat luas mencangkup India, Indocina, Indonesia, beberapa pulau di lautan Pasifik, dan barang kali Tiongkok Selatan. (Agus Sunyoto, 2016: 11) Di semua keadaan yang pelayarannya menghasilkan kesatuan pertukaran, diharapkan adanya kesatuan dalam kebudayaan yang lahir dengan sendirinya. Untuk menggambarkan secara umum kepercayaan- kepercayaan paling kuno yang telah dianut dan sering kali masih terlihat luas seperti diatas, cara terbaik sementara ini adalah dengan mengunaka istilah animisme. Maksudnya, penduduk India, Indocina, Indonesia dan Tiongkok Selatan percaya kepada Ruh, yang ada dalam segala benda, segala tempat, ruh yang lepas dari raganya, hantu-hantu penunggu air dan hutan termasuk orang-orang tertentu yang mempunyai kesaktian untuk memanggil ruh-ruh tersebut dan mengusirnya.
Agama kuno yang tersebar luas sejak dari India, Indocina, indonesia, Tiongkok Selatan, hingga pulau-pulau pasifik yang disebut P. Mus sebagai animisme itu, pada dasarnya adalah agama kuno penduduk Nusantara, yang di pulau Jawa dikenal dengan sebutan Kapitayan, yaitu agama kuno yang tumbuh dan berkembang sejak kebudayaan kala paleolithikum sampai Megalithikum yang terus berlanjut sampai kala perunggu dan besi. (Agus Sunyoto, 2016: 13) Dalam keyakinan penganut kapitayan di Jawa , leluhur yang awal sekali dikenal sebagai pengajur kapitayan adalah tokoh mitologis Danghyang Semar putra Sangyang Wungkuham keturunan Sanghyang Ismaya. Menurut cerita , Negri asal Danghyang Semar adalah Lemuria atau Swetadwipa, benua yang tenggelam akibat banjir besar sehinga Danghyang Semar dan kaumnya mengungsi ke pulau Jawa. Secara sederhana, kapitayan merupakan suatu ajaran keyakinan yang memuja sembahan utama yang disebut Sangyang Taya, yang bermakna Hampa, Kosong, Suwung, atau awang-uwung. Sedangkan Taya sendiri bermakna Absolut, yang tidak bisa dipikirkan, dibayang-bayangkan dan dan tidak bisa didekati dengan panca indra. Orang Jawa kuno mendefinisikan Sangyang Taya denga satu kalimat yaitu “tan kena kinaya ngapa” alias “tidak bisa diapa-apakan keberadaanya”. Sedangkan makna kata Awang-uwung sendiri ialah Ada tetapi tidak ada, tidak ada tetapi ada. Untuk itu, supaya bisa memudahkan di kenal dan di sembah oleh manusia, Sangyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat ilahiah yang di sebut Tu dan To yang bermakna “daya ghaib” yang bersifat adikodrati (Agus Sunyoto, 2016: 14)
Tu dan To adalah tunggal dalam sebuah Dzat. Tu lazim di sebut dengan nama Sangyang Tunggal. Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan ketidak baikan. Tu yang bersifat kebaikan yaitu Tu-Han yang serig di sebut Sangyang Wenang sedangkan Tu yang bersifat ketidak baikan yaitu Han-Tu yang bisa disebut juga Sangyang Manikmaya. Sangyang Wenang dan Sangyang Manikmaya tersebut hakikatnya adalah sebuah sifat dari Sangyang Tunggal yang pada dasarnya semua itu bersifat ghaib.
Oleh Karena Sangyang Tunggal mempunyai dua sifat utama yang bersifat ghaib, untuk memujanya dibutuhkan beberapa sarana yang bisa di terima oleh panca indra dan akal pikiran manusia. Hal tersebut karena di dalam ajaran kapitayan sendiri dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa Kekuatan ghaib Sangyang Taya tersembunyi di dalam segala sesuatu yang memiliki kata Tu ataupun To seperti halnya wa-Tu (batu), Tu-gu, Tu-nggak (batang pohon), To-pong (mahkota), To-peng dan To-san (pusaka). Dalam rangka melakukan puja bakti kepada Sangyang Tunggal, penganut kapitayan menyediakan sajen berupa Tu-mpeng, Tu-ak, Tu-mpi (kue dari tepung), dan Tu-kung (sejenis ayam) hal ini di sebahkan hanya kepada Sangyang Tunggal melalui tempat-tempat keramat. beda halnya dengan beribadah langsung kepada Sangyang Taya, amalan yang dilakukan oleh para ruhaniawan kapitayan yaitu dengan menuju kesuatu tempat yang dinamakan Sanggar, yaitu suatu bangunan persegi empat yang beratapan tumpang dan lubang ceruk di salah satu bagian dinding yang di situ menandakan kehampaan Sangyang Taya. Dalam bersembahyang kepada Sangyang Taya di sanggar itu, para ruhaniawan kapitayan mengikuti aturan tertentu: mula-mula, sang ruhaniawan yang sembahyang melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap ke Tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas dengan tujuan menghadirkan Sangyang Taya di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa Sangyang Taya telah bersemayam di hati, kedua tangan di turunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. Posisi ini di sebut swa-dikep (memegang ke-aku-an pribadi). Proses Tu-lajeg ini dilakukan dalam tempo relatif lama. Setelah Tu-lajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) yang juga dilakukan dengan tempo relatif lama. Dan dilanjutkan dengan posisi Tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Dan yang terakhir posisi To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya). (Agus Sunyoto, 2016: 17). Selama melakukan Tu-lajeg, Tu-ngkul, Tu-lumpak, dan To-ndhem dalam waktu satu jam lebih itu, ruhaniawan kapitayan dengan segenap perasaan berusaha menjaga keberlangsungan keberadaan Sangyang Taya (Yang Hampa) yang sudah di semayamkan di dalam Tutu-d (hati).
Seorang hamba pemuja Sangyang Taya yang di anggap saleh akan dikaruniai kekuatan ghaib yang bersifat positif (Tu-ah) dan yang bersifat negatif (Tu-lah). Mereka yang sudah dikaruniai Tu-ah dan Tu-lah lah yang di anggap berhak untuk menjadi pemimpin masyarakat dan di gelari dengan sebutan ra-Tu dan dha-Tu. Dalam keyakinan kapitayan ra-Tu dan dha-Tu yang telah di karuniai Tu-ah dan Tu-lah yang gerak-gerik kehidupannya di tandai dengan Pi, yakni kekuatan ilahiah dari Sangyang Taya yang tersembunyi. Oleh karena itu ra-Tu dan dha-Tu, menyebut dirinya dengan kata ganti Pi-nakahulun. Jika berbicara disebut Pi-dato. Jika mengajar pengetahuan disebut Pi-Wulang. Jika memberi petuah disebut Pi-tutur. Jika memberi petunjuk Pi-tuduh. Jika menghukum disebut Pi-dana. Seorang ra-Tu dan dha-Tu adalah pengejawantahan kekuatan ghaib Sangyang Taya dan seorang ra-Tu adalah citra pribadi dari Sangyang Tunggal.
Jadi pada dasarnya ajaran kapitayan tersebut bisa dikatakan dengan beberapa istilah seperti Animisme ataupun kesatuan kebudayaan yang meliputi India, Indocina, indonesia dan sebagainya. Secara sederhananya bisa dibilang suatu ajaran yang di anut oleh penduduk Nusantara kuno yang pemujaannya di tujukan kepada Sangyang Tunggal dan penyembahannya langsung kepada Sangyang Taya melalui suatu tempat yang dinamakan Sanggar dan di sanggar tersebut tempat para ruhaniawan kapitayan melakukan sembahyang yang bertujuan untuk menyemayamkan Sangyang Taya (hampa) didalam Tutu-d (hati).
Oleh: Aldi Bahar Tanjung
Dalam berbagai penggalian ilmiah yang terkait dengan etnis Penghuni Nusantara, diketahui bahwa semenjak Kala Pleistosen Akhir para penghuni kuno kepulawan Nusantara sudah mengenal peradaban yang di situ berkaitan dengan Agama. Dari berbagai jenis hasil budaya batu purba seperti Menhir, Dolmen, Yupa, Sarcopagus dan Punden Berundak hal tersebut telah ketahui sejak era paleolithikum sampai era Megalithikum, penghuni Nusantara sudah mengenal agama dengan berbagai pemujaannya. Selain itu pada era kebudayaan perunggu, banyak alat-alat yang berbahan perunggu yang disitu digunakan sebagai sarana pemujaan dan penguburan mayat.
P. Mus dalam L’Inde vue de l’Est. Cultes indiens etindigenes au champa menyatakan bahwa pada zaman purbakala terdapat kesatuan kebudayaan pada suatu wilayah yang sangat luas mencangkup India, Indocina, Indonesia, beberapa pulau di lautan Pasifik, dan barang kali Tiongkok Selatan. (Agus Sunyoto, 2016: 11) Di semua keadaan yang pelayarannya menghasilkan kesatuan pertukaran, diharapkan adanya kesatuan dalam kebudayaan yang lahir dengan sendirinya. Untuk menggambarkan secara umum kepercayaan- kepercayaan paling kuno yang telah dianut dan sering kali masih terlihat luas seperti diatas, cara terbaik sementara ini adalah dengan mengunaka istilah animisme. Maksudnya, penduduk India, Indocina, Indonesia dan Tiongkok Selatan percaya kepada Ruh, yang ada dalam segala benda, segala tempat, ruh yang lepas dari raganya, hantu-hantu penunggu air dan hutan termasuk orang-orang tertentu yang mempunyai kesaktian untuk memanggil ruh-ruh tersebut dan mengusirnya.
Agama kuno yang tersebar luas sejak dari India, Indocina, indonesia, Tiongkok Selatan, hingga pulau-pulau pasifik yang disebut P. Mus sebagai animisme itu, pada dasarnya adalah agama kuno penduduk Nusantara, yang di pulau Jawa dikenal dengan sebutan Kapitayan, yaitu agama kuno yang tumbuh dan berkembang sejak kebudayaan kala paleolithikum sampai Megalithikum yang terus berlanjut sampai kala perunggu dan besi. (Agus Sunyoto, 2016: 13) Dalam keyakinan penganut kapitayan di Jawa , leluhur yang awal sekali dikenal sebagai pengajur kapitayan adalah tokoh mitologis Danghyang Semar putra Sangyang Wungkuham keturunan Sanghyang Ismaya. Menurut cerita , Negri asal Danghyang Semar adalah Lemuria atau Swetadwipa, benua yang tenggelam akibat banjir besar sehinga Danghyang Semar dan kaumnya mengungsi ke pulau Jawa. Secara sederhana, kapitayan merupakan suatu ajaran keyakinan yang memuja sembahan utama yang disebut Sangyang Taya, yang bermakna Hampa, Kosong, Suwung, atau awang-uwung. Sedangkan Taya sendiri bermakna Absolut, yang tidak bisa dipikirkan, dibayang-bayangkan dan dan tidak bisa didekati dengan panca indra. Orang Jawa kuno mendefinisikan Sangyang Taya denga satu kalimat yaitu “tan kena kinaya ngapa” alias “tidak bisa diapa-apakan keberadaanya”. Sedangkan makna kata Awang-uwung sendiri ialah Ada tetapi tidak ada, tidak ada tetapi ada. Untuk itu, supaya bisa memudahkan di kenal dan di sembah oleh manusia, Sangyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat ilahiah yang di sebut Tu dan To yang bermakna “daya ghaib” yang bersifat adikodrati (Agus Sunyoto, 2016: 14)
Tu dan To adalah tunggal dalam sebuah Dzat. Tu lazim di sebut dengan nama Sangyang Tunggal. Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan ketidak baikan. Tu yang bersifat kebaikan yaitu Tu-Han yang serig di sebut Sangyang Wenang sedangkan Tu yang bersifat ketidak baikan yaitu Han-Tu yang bisa disebut juga Sangyang Manikmaya. Sangyang Wenang dan Sangyang Manikmaya tersebut hakikatnya adalah sebuah sifat dari Sangyang Tunggal yang pada dasarnya semua itu bersifat ghaib.
Oleh Karena Sangyang Tunggal mempunyai dua sifat utama yang bersifat ghaib, untuk memujanya dibutuhkan beberapa sarana yang bisa di terima oleh panca indra dan akal pikiran manusia. Hal tersebut karena di dalam ajaran kapitayan sendiri dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa Kekuatan ghaib Sangyang Taya tersembunyi di dalam segala sesuatu yang memiliki kata Tu ataupun To seperti halnya wa-Tu (batu), Tu-gu, Tu-nggak (batang pohon), To-pong (mahkota), To-peng dan To-san (pusaka). Dalam rangka melakukan puja bakti kepada Sangyang Tunggal, penganut kapitayan menyediakan sajen berupa Tu-mpeng, Tu-ak, Tu-mpi (kue dari tepung), dan Tu-kung (sejenis ayam) hal ini di sebahkan hanya kepada Sangyang Tunggal melalui tempat-tempat keramat. beda halnya dengan beribadah langsung kepada Sangyang Taya, amalan yang dilakukan oleh para ruhaniawan kapitayan yaitu dengan menuju kesuatu tempat yang dinamakan Sanggar, yaitu suatu bangunan persegi empat yang beratapan tumpang dan lubang ceruk di salah satu bagian dinding yang di situ menandakan kehampaan Sangyang Taya. Dalam bersembahyang kepada Sangyang Taya di sanggar itu, para ruhaniawan kapitayan mengikuti aturan tertentu: mula-mula, sang ruhaniawan yang sembahyang melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap ke Tutu-k (lubang ceruk) dengan kedua tangan diangkat ke atas dengan tujuan menghadirkan Sangyang Taya di dalam Tutu-d (hati). Setelah merasa Sangyang Taya telah bersemayam di hati, kedua tangan di turunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. Posisi ini di sebut swa-dikep (memegang ke-aku-an pribadi). Proses Tu-lajeg ini dilakukan dalam tempo relatif lama. Setelah Tu-lajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang ke bawah) yang juga dilakukan dengan tempo relatif lama. Dan dilanjutkan dengan posisi Tu-lumpak (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki). Dan yang terakhir posisi To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya). (Agus Sunyoto, 2016: 17). Selama melakukan Tu-lajeg, Tu-ngkul, Tu-lumpak, dan To-ndhem dalam waktu satu jam lebih itu, ruhaniawan kapitayan dengan segenap perasaan berusaha menjaga keberlangsungan keberadaan Sangyang Taya (Yang Hampa) yang sudah di semayamkan di dalam Tutu-d (hati).
Seorang hamba pemuja Sangyang Taya yang di anggap saleh akan dikaruniai kekuatan ghaib yang bersifat positif (Tu-ah) dan yang bersifat negatif (Tu-lah). Mereka yang sudah dikaruniai Tu-ah dan Tu-lah lah yang di anggap berhak untuk menjadi pemimpin masyarakat dan di gelari dengan sebutan ra-Tu dan dha-Tu. Dalam keyakinan kapitayan ra-Tu dan dha-Tu yang telah di karuniai Tu-ah dan Tu-lah yang gerak-gerik kehidupannya di tandai dengan Pi, yakni kekuatan ilahiah dari Sangyang Taya yang tersembunyi. Oleh karena itu ra-Tu dan dha-Tu, menyebut dirinya dengan kata ganti Pi-nakahulun. Jika berbicara disebut Pi-dato. Jika mengajar pengetahuan disebut Pi-Wulang. Jika memberi petuah disebut Pi-tutur. Jika memberi petunjuk Pi-tuduh. Jika menghukum disebut Pi-dana. Seorang ra-Tu dan dha-Tu adalah pengejawantahan kekuatan ghaib Sangyang Taya dan seorang ra-Tu adalah citra pribadi dari Sangyang Tunggal.
Jadi pada dasarnya ajaran kapitayan tersebut bisa dikatakan dengan beberapa istilah seperti Animisme ataupun kesatuan kebudayaan yang meliputi India, Indocina, indonesia dan sebagainya. Secara sederhananya bisa dibilang suatu ajaran yang di anut oleh penduduk Nusantara kuno yang pemujaannya di tujukan kepada Sangyang Tunggal dan penyembahannya langsung kepada Sangyang Taya melalui suatu tempat yang dinamakan Sanggar dan di sanggar tersebut tempat para ruhaniawan kapitayan melakukan sembahyang yang bertujuan untuk menyemayamkan Sangyang Taya (hampa) didalam Tutu-d (hati).

0 komentar:
Posting Komentar